Hubungan Tenaga Kesehatan Dengan Profesi Lain Dalam Pelayanan Kebidanan

A. Hubungan dengan tenaga kesehatan lain

pelayanan kebidanan merupakan pelayanan yang diberikan oleh bidan sesuai kewenangan yang diberikannya dengan maksud meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka tercapainya keluarga berkualitas, bahagia, dan sejahtera.

dalam sistem pelayanan kesehatan kerja sama merupakan kolaborasi, dimana kolaborasi merupakan hubungan saling berbagi tanggung jawab atau kerja sama dengan rekan sejawat atau tenaga kesehatan lainnya dalam memberi asuhan kepada pasien.

dalam praktiknya, kolaborasi dilakukan dengan mendiskusikan diagnosis pasien serta kerjasama dalam penatalaksanaan dan pemberian asuhan.

B. Hubungan dengan profesi lain

komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya.

pengertian kerja sama adalah suatu usaha bersama antara perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. kerja sama dalam berlangsung manakala individu-individu yang bersangkutan memiliki kepentingan yang sama dan memiliki kesadaran untuk bekerja sama guna mencapai kepentingan mereka.

pelayanan kebidanan merupakan pelayanan yang diberikan oleh bidan sesuai kewenangan yang diberikannya dengan maksud meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka tercapainya keluarga berkualitas, bahagia, dan sejahtera.

dalam sistem pelayanan kesehatan kerja sama merupakan kolaborasi, dimana kolaborasi merupakan hubungan saling berbagi tanggung jawab atau kerja sama dengan rekan sejawat atau tenaga kesehatan lainnya dalam memberi asuhan kepada pasien.

dalam praktiknya, kolaborasi dilakukan dengan mendiskusikan diagnosis pasien serta bekerja sama dalam penatalaksanaan dan pemberian asuhan.

masing-masing tenaga kesehatan dapat saling berkonsultasi dengan tatap muka langsung atau melalui alat komunikasi lainnya dan tidak perlu hadir ketika tindakan dilakukan.

petugas kesehatan yang di tugaskan menangani pasien bertanggung jawab terhadap keseluruhan penatalaksanaan asuhan.

C. Komponen-komponen dalam komunikasi

1. sender (pemberi saran) : individu yang bertugas mengirimkan pesan.

2. receiver (penerima pesan) : seseorang yang menerima pesan. bila berbentuk pesan yang diterima maupun pesan yang sudah di interpretasikan.

3. pesan : informasi yang diterima, bisa berupa data, ide atau perasaan. pesan akan efektif bila jelas dan terorganisir yang diekspresikan oleh si pengirim pesan.

4. media : metode yang di gunakan dalam pesan yaitu kata, bisa dengan cara di tulis, di ucapkan. contoh: catatan atau surat adalah kata.

5. umpan balik : penerima pesan memberikan informasi atau pesan kembali kepada pengirim pesan dalam bentuk komuikasi yang efektif. umpan balik merupakan proses yang kontinue karena memberikan respons pesan dan mengirimkan pesan berupa stimulus yang baru kepada pengirim pesan.

D. Pentingnya komunikasi dalam pelayanan kesehatan

manusia sebagai makhluk sosial selalu memerlukan orang lain.

tatanan klinik seperti RS sebagai salah satu sistem dari kelompok sosial, termasuk salah satu modal utama untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

hubungan buruk yang terjadi pada suatu RS disebabkan karena buruknya sistem komunikasi antar individu yang terlibat dalam sistem.

agar kerja sama dalam pelayanan kesehatan terwujud, semua jenis profesi harus mempunyai keinginan untuk berkolaborasi.

kerja sama dalam pelayanan kebidanan meliputi : dokter, farmasi, perawat, gizi, tenaga laboratorium.

E. Elemen kolaborasi mencangkup

harus melibatkan tenaga ahli dengan bidang keahlian yang berbeda, yang dapat bekerja sama secara timbal balik dengan baik.

anggota kelompok harus bersikap tegas dan mau bekerja sama.

kelompok harus memberi pelayanan yang keunikannya dihasilkan dari kombinasi pandangan dan keahlian yang diberikan oleh setiap anggota tim tersebut.

F. Kolaborasi di dasarkan pada

1. konsep tujuan umum

2. kontribusi praktisi profesional

3. kolegalitas

4. komunikasi

5. praktik yang di fokuskan kepada pasien

kolegasi : menekankan pada saling menghargai, dan pendekatan profesional untuk masalah-masalah dalam tim daripada menyalahkan seseorang atau menghindari tanggung jawab.

komunikasi : agar kolaborasi dapat berjalan dengan baik dan pelayanan kesehatan masyarakat dapat meningkat, perlu adanya komunikasi yang baik antara sesama tenaga kesehatan, rasa saling percaya dengan profesi tenaga kesehatan lainnya, menghargai profesi lain dalam pengambilan keputusan bersama (dalam kolaborasi).

tidak ada kelompok yang dapat menyatakan lebih berkuasa di atas yang lainnya. masing-masing profesi memiliki profesional yang berbeda sehingga ketika di gabungkan dapat menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan yang di harapkan.

kolaborasi yang efektif antara anggota tim kesehatan memfasilitasi terselenggaranya pelayanan pasien yang berkualitas.

delegasi : suatu pelimpahan wewenang dan tanggung jawab formal kepada orang lain untuk melaksanakan kegiatan tertentu.

Kesadaran Akan Adanya Dimensi Etis Dalam Berprofesi Hubungannya Dengan Profesi Lain

A. Dimensi etik dalam berprofesi

konsep dasar dimensi etik dalam peran bidan :

1. dimensi adalah cara menilai sesuatu dari suatu sisi.

2. etik adalah tanggung jawab moral sehubungan dengan pelaksanaan aktifitas suatu profesi.

3. dimensi etika adalah cara memandang atau menilai sesuatu melalui sisi etik.

4. dimensi etik dalam peran bidan adalah cara memandang peran bidan melalui sisi pandang etik.

etik dalam peran bidan sebagai praktisi di institusi pelayanan kesehatan terdapat praktisi, yang setiap praktisi mempunyai peran, fungsi, dan tugas sesuai kewenangan bidan memiliki standar praktik kebidanan dan standar operating prosedur.

bidan harus memiliki kewajiban :

1. kewajiban etik legal.

2. menggunakan teori deontologi. teori deontologi adalah pandangan etika normatif yang menilai moralitas suatu tindakan berdasarkan kepatuhan pada peraturan. etika ini kadang-kadang disebut etika berbasis "kewajiban" atau "obligasi" karena peraturan memberikan kewajiban kepada seseorang.

3. menggunakan pendekatan utilytarianisme pelayanan kebidanan di laksanakan secara horistik.

B. Kesadaran dimensi etik dalam berprofesi

sifat-sifat provider :

1. semangat untuk melayani.

2. simpati, tulus, dan ikhlas.

3. dapat memberi pelayanan.

C. Etik peran bidan sebagai konselor

bidan sebagai konselor memiliki :

1. minat untuk menolong orang lain.

2. mampu untuk empati.

3. mampu untuk menjadi pendengar yang baik dan aktif.

4. mempunyai daya pengamatan yang tajam.

5. terbuka terhadap pendapat orang lain.

6. mampu mengenali hambatan psikologi, sosial, dan budaya.

D. Dimensi kode etik bidan

1. anggota profesi dan klien.

2. anggota profesi dan sistem kesehatan.

3. anggota profesi dan profesi kesehatan.

4. anggota profesi dan sesama profesi.

E. Secara umum kode etik meliputi

1. kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat.

2. kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya.

3. kewajiban bidan terhadap profesinya.

4. kewajiban bidan terhadap diri sendiri.

5. kewajiban bidan terhadap nusa, bangsa, dan tanah air.

Kesimpulan

kode etik merupakan ciri profesi yang bersumber dari nilai-nilai dan eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan komprehensif suatu profesi yang memberikan tuntutan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian profesi. setiap profesi memiliki etika dalam menjalankan profesinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini