Pembuahan, Nidasi, Dan Plasentasi
Disini bidan Hasna akan menjelaskan mengenai pembuahan, nidasi, dan plasentasi dalam ilmu kebidanan.
dalam tahap pembuahan, tentunya harus ada spermatozoon, ovum, pembuahan ovum (konsepsi), dan nidasi hasil konsepsi. tiap spermatozoon terdiri atas 3 bagian, yaitu :
1. kaput/kepala yang berbentuk lonjong agak gepeng dan mengandung bahan nukleus
2. ekor
3. bagian silindrik yang menghubungkan kepala dengan ekor
dengan getaran ekornya spermatozoon dapat bergerak cepat. dalam pertumbuhan embrional spermatogonium berasal dari sel-sel primitif tubulus-tubulus testis. setelah janin dilahirkan, jumlah spermatogonium yang ada tidak mengalami perubahan hingga masa pubertas tiba. pada masa pubertas sel-sel spermatogonium tersebut dibawah pengaruh sel-sel interstisial leydig mulai aktif mengadakan mitosis dan terjadilah spermatogenesis yang amat komplek itu. tiap spermatogonium membelah 2 dan menghasilkan spermatosit pertama. spermatosit pertama ini membelah dua dan menjadi dua spermatosit kedua. spermatosit kedua membelah dua lagi tetapi dengan hasil bahwa dua spermatid masing-masing memiliki jumlah kromosom setengah dari jumlah yang khas untuk jenis itu. dari spermatid ini, kemudian tumbuh spermatozoon (Sarwono Prawirohardjo, 1992 : 55-56) begitulah proses terbentuknya sperma yang disebut dengan spermatogenesis.
pertumbuhan embrional oogonium yang kelak menjadi ovum terjadi di genital ridge, dan didalam kandungan jumlah oogonium bertambah terus sampai pada kehamilan enam bulan. pada waktu dilahirkan, bayi mempunyai sekurang-kurangnya 750.000 oogonium. jumlah ini berkurang akibat pertumbuhan dan degenerasi folikel-folikel. pada umur 6-15 tahun ditemukan 439.000, pada 16-25 tahun hanya 34.000. pada masa menopause semua menghilang.
sebelum janin dilahirkan, sebagian besar oogonium mengalami perubahan-perubahan pada nukleusnya. terjadi pula migrasi dari oogonium-oogonium kearah korteks ovarii, hingga pada waktu dilahirkan korteks ovarii terisi dengan primordial ovarian follicles. padanya dapat dilihat bahwa kromosomnya telah berpasangan, DNAnya berduplikasi, yang berarti bahwa sel menjadi tetraploid. pertumbuhan selanjutnya terhenti oleh sebab yang belum diketahui sampai follikel itu terangsang dan berkembang lagi ke arah kematangan. sel yang terhenti dalam proses meiosis dinamakan oosit pertama. oleh rangsangan FSH meiosis (pembelahan ke arah pematangan) terjadi terus, benda kutub (polar body) pertama disisihkan dengan hanya sedikit sitoplasma, sedangkan oosit kedua ini berada di dalam sitoplasma yang cukup banyak.
proses pembelahan ini terjadi sebelum ovulasi. sedangkan, pengertian dari ovulasi sendiri adalah proses yang terjadi dalam siklus menstruasi perempuan, yaitu pecahnya folikel telur yang matang dan melepaskan sel telur melalui tuba fallopi ke uterus (rahim) untuk dibuahi. proses ini disebut pematangan pertama ovum, pematangan kedua ovum terjadi pada waktu spermatozoon membuahi ovum.
jutaan spermatozoon dikeluarkan di forniks vagina dan disekitar porsio pada waktu koitus (hubungan seksual). hanya beberapa ratus ribu spermatozoon dapat meneruska ke kavum uteri dan tuba, hanya beberapa ratus yang dapat sampai kebagian ampulla tuba dimana spermatozoon dapat memasuki ovum yang telah siap untuk dibuahi. hanya satu spermatozoon yang mempunyai kemampuan (capacitation) untuk membuahi. pada spermatozoon itu ditemukan peningkatan konsentrasi DNA di nukleusnya, dan kaputnya lebih mudah menembus karena dapat melepaskan hialuronidase.
ovum yang dilepas oleh ovarium disapu oleh mikrofilamen-mikrofilamen fimbria infundibulum ke arah ostium tuba abdominale dan disalurkan terus ke arah medial. ovum sesudah dilepas oleh ovarium mempunyai diameter 0,1 mm.
ditengah-tengahnya di jumpai nukleus yang berada dalam metafase pada pembelahan pematangan kedua, terapung-apung dalam sitoplasma yang kekuning-kuningan yakni vitellus. vitellus ini mengandung banyak zat hidrat arang dan asam amino.
ovum dilingkari oleh zona pellusida. di luar zona pellusida ini ditemukan sel-sel korona radiata, dan di dalamnya terdapat ruang perivitellina, tempat benda-benda kutub. bahan-bahan dari sel-sel korona radiata dapat disalurkan ke ovum melalui saluran-saluran halus di zona pellusida. jumlah sel-sel korona radiata di dalam perjalanan ovum di ampulla tuba makin berkurang, hingga ovum hanya dilingkari oleh zona pellusida pada waktu berada dekat pada perbatasan ampulla dan ismus tuba, tempat pembuahan umumnya terjadi. hanya satu spermatozoon yang telah mengalami proses kapasitasi, dapat melintasi zona pellusida masuk ke vitellus. sesudah itu, zona pellusida segera mengalami perubahan dan mempunyai sifat tidak dapat di lintasi lagi oleh spermatozoon lain. spermatozoon yang telah masuk ke vitellus membangkitkan nukleus ovum yang masih dalam metafase untuk pembelahan-pembelahannya. sesudah anafase kemudian timbul telofase, dan benda kutub (polar body) kedua menuju ke ruang perivitellina. ovum sekarang hanya mempunyai pronukleus yang haploid. pronukleus spermatozoon telah mengandung jumlah kromosom yang haploid.
kedua pronuklei saling mendekat dan bersatu membentuk zigot yang terdiri atas bahan genetik dari pria dan wanita. pada manusia terdapat 46 kromosom, ialah 44 kromosom otosom dan 2 kromosom kelamin; pada seorang pria satu X dan satu Y. sesudah pembelahan kematangan maka ovum matang mempunyai 22 kromosom otosom serta 1 kromosom X atau 22 kromosom otosom serta 1 kromosom Y. zigot sebagai hasil pembuahan yang memiliki 44 kromosom otosom serta 2 kromosom X akan tumbuh sebagai seorang janin wanita, sedang 4 kromosom otosom serta 1 kromosom X dan 1 kromosom Y akan tumbuh sebagai seorang janin pria.
dalam beberapa jam setelah pembuahan terjadi, mulailah pembelahan zigot. hal ini dapat berlangsung karena sitoplasma ovum mengandung banyak zat asam amino dan enzim. segera setelah pembelahan ini terjadi, maka pembelahan-pembelahan selanjutnya berjalan dengan lancar, dan dalam 3 hari terbentuk suatu kelompok sel-sel yang sama besarnya. hasil konsepsi berada dalam stadium morula. energi untuk pembelahan ini diperoleh dari vitellus, hingga volume vitellus makin berkurang dan terisi seluruhnya oleh morula. dengan demikian, zona pellusida tetap utuh, atau dengan kata lain, besarnya hasil konsepsi tetap sama. dalam ukuran yang sama ini hasil konsepsi disalurkan terus ke pars ismika dan pars interstisialis tuba (bagian-bagian tuba yang sempit) dan terus ke arah kavum uteri oleh arus serta getaran silia pada permukaan sel-sel tuba dan kontraksi tuba. dalam kavum uteri hasil konsepsi mencapai stadium blastula.
pada stadium blastula ini sel-sel yang lebih kecil yang membentuk dinding blastula, akan menjadi trofoblas. dengan demikian, blastula diselubungi oleh suatu simpai yang disebut trofoblas. trofoblas yang mempunyai kemampuan-kemampuan menghancurkan dan mencairkan jaringan menemukan endometrium dalam masa sekresi dengan sel-sel desidua. sel-sel desidua ini besar-besar dan mengandung lebih banyak glikogen serta mudah dihancurkan oleh trofoblas. blastula dengan bagian yang mengandung inner-cell-mass aktif mudah masuk kedalam lapisan desidua dan luka pada desidua kemudian menutup kembali. kadang-kadang pada saat nidasi yakni masuknya ovum kedalam endometrium terjadi perdarahan pada luka desidua (tanda Hartman).
pada umumnya blastula masuk di endometrium dengan bagian dimana inner-cell-mass berlokasi. dikemukakan bahwa hal inilah yang menyebabkan tali pusat berpangkal sentral atau para sentral. bila sebaliknya dengan blastula bagian lain memasuki endometrium, maka terdapatlah tali pusat dengan insersio velamentosa. umumnya nidasi terjakorion di di dinding depan atau belakang uterus, dekat dengan fundus uteri. jika nidasi terjadi, barulah dapat disebut adanya kehamilan. lapisan desidua yang meliputi hasil konsepsi ke arah kavum uteri disebut desidua kapsularis; yang terletak antara hasil konsepsi dan dinding uterus disebut desidua basalis; disitu plasenta akan dibentuk. desidua yang meliputi dinding uterus yang lain adalah desidua parietalis. hasil konsepsi sendiri diselubungi oleh jonjot-jonjot yang dinamakan villi koriales dan berpangkal pada korion.
bila nidasi ini terjadi, mulailah diferensiasi sel-sel blastula. sel-sel yang lebih kecil, yang dekat pada ruang eksoselom, membentuk entoderm dan yolk sac, sedangkan sel-sel yang lebih besar menjadi ektoderm dan membentuk ruang amnion. dengan ini, didalam blastula terdapat suatu embryonal membrane yang kelak menjadi korion. trofoblas yang amat hiperplastik itu tumbuh tidak sama tebalnya dan dalam 2 lapisan. di sebelah dalam di bentuk lapisan sitotrofoblas (terdiri atas sel-sel yang monokleus) dan di sebelah luar lapisan sinsisiotrofoblast, terdiri atas nukleus-nukleus, tersebar tak rata dalam sitoplasma.
selain itu villi koriales yang berhubungan dengan desidua basalis tumbuh dan bercabang-cabang dengan baik, disini korion disebut korion frondosum. yang berhubungan dengan desidua kapsularis kurang mendapat makanan, karena hasil konsepsi bertumbuh ke arah kavum uteri sehingga lambat laun menghilang; korion yang gundul ini disebut korion laeva.
dalam tingkat nidasi trofoblas antara lain menghasilkan hormon human chorionic gonadotropin. produksi HCG meningkat sampai kurang lebih hari ke 60 kehamilan untuk kemudian turun lagi. fungsi dari HCG ialah mempengaruhi korpus luteum untuk terus tumbuh dan menghasilkan progesteron sampai plasenta dapat membuat cukup progesteron sendiri. HCG inilah yang khas untuk menentukan ada tidaknya kehamilan. hormon tersebut dapat ditemukan di dalam air kencing wanita apabila wanita tersebut mengalami kehamilan.
pertumbuhan embrio terjadi dari embryonal plate yang selanjutnya terdiri atas 3 unsur lapisan, yakni : sel-sel ektoderm, mesoderm, dan endoderm. sementara itu, ruang amnion tumbuh dengan cepat dan mendesak eksoselom; akhirnya dinding ruang amnion mendekati korion. mesoblas antara ruang amnion dan embrio menjadi padat, yang dinamakan body stalk. dan merupakan hubungan antara embrio dan dinding trofoblas. body stalk, menjadi tali pusat. yolk-sac dan allantois pada manusia tidak tumbuh terus, dan sisa-sisanya dapat ditemukan dalam tali pusat.
di tali pusat sendiri yang berasal dari body stalk, terdapat pembuluh-pembuluh darah sehingga ada yang menamakannya vascular stalk. dari perkembangan ruang amnion dapat dilihat bahwa bagian luar tali pusat berasal dari lapisan amnion. di dalamnya terdapat jaringan lembek, selai Wharton yang berfungsi melindungi arteria umbilikalis dan 1 vena umbilikalis yang berada di tali pusat. kedua arteri dan satu vena tersebut menghubungkan satu sistem kardiovaskuler janin dengan plasenta. adapun sistem kardiovaskuler janin dibentuk pada kira-kira minggu ke 10. organogenesis di perkirakan selesai pada minggu ke 12, dan disusul oleh masa fetal dan perinatal. ciri-ciri tersebut perlu diketahui jika pada abortus ingin diketahui tuanya kehamilan.
seperti telah dijelaskan, trofoblas mempunyai sifat menghancurkan desidua, termasuk spiral arteries serta vena-vena di dalamnya. akibatnya, terbentuklah ruangan-ruangan yang terisi oleh perdarahan dari pembuluh-pembuluh darah yang ikut di hancurkan. pertumbuhan ini berjalan terus, sehingga timbul ruangan-ruangan intervillair dimana villi koriales seolah-olah terapung-apung diantara ruangan-ruangan tersebut sampai terbentuknya plasenta. sebagian dari villi koriales tetap melekat pada desidua. lagi pula, desidua yang tidak di hancurkan oleh trofoblas membentuk septa plasenta, yang dapat dilihat di bagian maternal plasenta.
septa plasenta ini membagi plasenta dalam beberapa maternal cotyledon, umumnya ditemukan 15 sampai 20 buah maternal cotyledon. foetal cotyledon adalah suatu kelompok besar villi koriales yang bercabang-cabang seperti pohon. pada plasenta aterm diperkirakan terdapat 200 foetal cotyledon. dari tiap-tiap cabang villi koriales terdapat sistem vena serta arteria yang menuju vena umbilikalis dan arteria umbilikalis. sebagian besar pohon-pohon cabang itu tergenang di dalam ruangan interviler yang berisi darah ibu yang mengandung banyak zat makanan dan zat asam bagi janin.
darah ibu dan darah janin dipisahkan oleh dinding pembuluh darah janin dan lapisan korion. plasenta yang demikian dinamakan plasenta jenis hemokorial. disini jelas tidak ada percampuran darah antara janin dan ibu. ada juga sel-sel desidua yang tidak dapat di hancurkan oleh trofoblas dan sel-sel ini akhirnya membentuk lapisan fibrinoid yang disebut lapisan Nitabuch. ketika melahirkan, plasenta terlepas dari endometrium pada lapisan Nitabuch ini. bila oleh sesuatu sebab umpama pada abortus di kuret terlalu dalam, maka jonjot-jonjot plasenta tumbuh diantara otot-otot miometrium (plasenta akreta) atau dapat pula di jumpai plasenta pakreta yang dapat menimbulkan ruptura uteri spontan (Sarwono Prawirohardjo, 1992 : 55-64)
Komentar
Posting Komentar